MENGINTIP MAKAM SYIAH KUALA DI BANDA ACEH

 Adat Bak Po Teumeureuhom Hukom Bak Syiah Kuala, (Ada di Po Teumeureuhom, Hukum di Syiah Kuala), itulah kalimat pertama dilihat oleh setiap pengunjung saat hendak masuk dalam pekarangan makam seorang ulama kharismatik Aceh, bernama Syiah Kuala.

Makam ini juga sudah dijadikan objek wisata religi oleh Pemerintah Kota Banda Aceh. Setiap hari ratusan pengunjung selalu memadati area makam ini. Baik sekadar melihat, maupun hendak berziarah sembari membacakan zikir dan berdoa di makan ini.

Kemudian pengunjung langsung menuju ke sebuah gedung yang terbuat dari beton, di bagian depan dipasang besi jeruji terlihat jelas makam Syiah Kuala dan beberapa makam lainnya.

Di depan gedung ini terdapat sebuah pamflet dituliskan kisah dan sejarah makam ini. Termasuk tertera tanggal lahir, wafat bahkan jabatannya semasa Kerjaan Aceh Darussalam pada pemerintahan para Ratu. Ada 4 ratu Syiah Kuala menjabat sebagai Kadhi Malikul Adil masa itu.

Pengunjung kemudian memutar ke belakang dari arah samping gedung ini. Ada bak tempat wudu sebelum memasuki pintu masuk dalam makam ini. Tempat wudu pria dan wanita ini yang terbuat dari beton dipisahkan dengan 3 papan. Tempat wudu pertama terlihat adalah milik wanita dan sebelahnya milik pria.

Bak air ini selain untuk wudu, penziarah pun sering mencuci muka dengan harapan mendapatkan berkah dari Allah SWT. Meskipun pengelola mengingatkan air ini banyak ditemukan di tempat-tempat lain. Kalau pun ada kesembuhan, itu semua bukan karena air, tetapi karena Allah SWT.

“Ini air biasa, banyak terdapat di tempat lain, kalau pun mau cuci muka atau apapun, semua bermohonlah pada Allah, bukan pada air ini,” kata pengelola makam, Teuku Abdul Wahed ben Teungku Keuchik Syech, Sabtu (14/3). Teuku Abdul Waded merupakan keturunan ke 7 dari Syiah Kuala yang bertugas menjaga dan merawat makam ini.

Sebelum memasuki ruang pintu masuk dalam makam, tertulis papan pengumuman agar semua pengunjung menggunakan pakaian yang muslim dan muslimah. Termasuk ada kertas tertempel larangan memotret di dalam makam ini.

Larangan memotret di dalam makam bukan tidak memiliki alasan. Petugas penjaga makam ini melarang memotret untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan disalah gunakan.

Kendati demikian, pihaknya akan memberikan untuk memotret, akan tetapi setelah mendapat izin dari pengelola. Setelah mendapatkan penjelasan keperluannya, sambil didampingi pengelola, pengunjung diperbolehkan untuk mengabadikan momen selama di makam.

“Kami larang ini jangan sampai nanti foto itu disembah-sembah oleh pihak tertentu, karena ini makam, jadi kami hanya ingin menghindar perbuatan syirik,” tegasnya.

Larangan ini bukan tidak memiliki sebab. Teuku Abdul Wahed pernah mendapatkan peristiwa ganjil dari pengunjung beberapa waktu lalu. Tanpa sepengetahuan dirinya, salah seorang pengunjung mengambil batu yang ada dalam makam ini.

Padahal batu-batu berwarna putih yang ditaburkan di area makam ini, merupakan batu biasa yang diambil dari sungai. Bahkan batu-batu hiasan ini banyak diperjualbelikan di pasar.

Selang satu bulan kemudian, pengunjung ini mengembalikan batu tersebut di kuburan Syiah Kuala. Pengunjung yang mengambil batu ini, lalu meminta maaf pada Teuku Abdul Wahed. Dia mengaku bersalah telah mengambil batu-batu tersebut.

“Saya sudah berkali-kali mengingatkan pengunjung untuk tidak memuja makam, meminta sesuatu pada makam, berkunjung berziarah silakan. Kalau mau minta sesuatu, mintalah kepada Allah,” tegasnya. Namun Teuku Abdul Wahed terlihat enggan menjelaskan secara detail kejadian ganjil ini

Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/mengintip-makam-keramat-syiah-kuala-di-banda-aceh.html.

 

Leave a Reply