WISATA SOCIAL ECOTOURISM DI KAMPUNG NUSA, ACEH BESAR

Bila ke Banda Aceh, sempatkanlah menjelajahi Kampung Nusa (gampong Nusa) yang terletak di jalan Banda Aceh – Meulaboh km 8,5. Tidak jauh, hanya 10 menit berkendara ke arah barat. Atau lebih mudahnya, ke arah pantai Lhoknga. Sehabis Penjara Lhoknga, belok kiri.

Sepintas, desa ini tidak berbeda dengan desa kebanyakan di kabupaten Aceh besar. jalanan yang lengang. Itik-itik yang melenggang manja menunjukkan bokongnya yang montok. Atau sesekali terlihat ayam yang sedang lari terbirit-birit sambil berteriak dengan bahasa ke-ayamannya karena di kejar oleh beberapa bocah laki-laki.

Dibalik itu semua, ternyata Gampong Nusa, sebenarnya menawarkan sesuatu yang unik kepada siapapun yang ingin mengenalnya lebih jauh.

lets go…

Saya beruntung, walaupun cuaca sedikit mendung, minggu lalu saya menyempatkan diri bertemu seorang teman lama. Sekaligus sebagai salah seorang Perempuan Inspiratif Nova 2013 lalu. Darinya, saya mendapatkan begitu banyak cerita dan ilmu mengenai hebatnya Gampong Nusa ini.

Percaya atau tidak, desa kecil ini menawarkan sebuah sensasi wisata baru yang mungkin jarang di temui di daerah lain. Di desa inilah pertama kali di perkenalkan Bank Sampah. Awal mulanya, mereka mendirikan bank Sampah atas inisiatif perorangan. Tujuannya, agar anak-anak bisa mengaji dan membiayai pengajian tersebut dengan mengelola sampah yang ada. Sayangnya, karena kurangnya akses media yang masuk, jadilah bank sampah itu hanya terkenal dalam komunitas desa tersebut saja.

Wisata Alam

Pemandangan hamparan sawah yang menghijau kala musim tanam, bentangan bukit-bukit dan gunung di sisi kiri desa, menciptakan sebuah wahana wisata yang berbeda. Keramah-tamahan penduduk desa membuat saya begitu nyaman menyambangi desa ini. Hampir semua orang yang saya temui, mereka tersenyum kepada saya. Sesekali, mereka menyapa hangat. Rupanya, di desa ini, masyarakatnya sudah terbiasa menerima tamu. Bukan saja dari sekitar desa, melainkan dari manca Negara. Mungkin, hal ini pula yang membuat desa ini menyediakan Home Stay atau dasa wisma yang tergolong murah. Bayangkan, hanya dengan 1,5 juta/minggu, kita sudah bisa menginap di sebuah kamar, lengkap dengan makan tiga kali sehari. Tidur dengan suasana desa yang begitu tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Desingan suara mesin berganti sesuara burung yang bernyanyi.

Alam pedesaan gampong Nusa, masih bisa dikatakan asri. Bersih. Hijau, dan sejuk. Sungai kecil yang mengalir antara persawahan dan perumahan penduduk, menciptakan sebuah oase tersendiri. Bahkan ketika musim penghujan tiba, air yang melimpah ruah ini akan menjadi santapan para bocah-bocah pemberani untuk menguji nyali mereka. Tenang saja, sungai ini jauh dari bau menyengat. Jauh dari sampah yang menimbulkan banjir. Buang jauh-jauh penggambaran sungai yang jorok, pesing, bau amis, dari pikiran anda. Karena itu semua tidak terbukti disini.

Letaknya yang dekat dengan Lhoknga, membuat kita bisa tidak perlu jauh-jauh bila ingin menikmati sunset di pantai yang berpasir putih. Pun, pesona Krueng Raba juga hanya terletak di seberang desa. Lengkap sudah.

Wisata Seni dan Budaya

Kampung ini, juga menawarkan wisata budaya. Beberapa kearifan local tetap di jaga dengan baik. Kala adzan magrib berkumandang, jangan harap anda akan mendengar orang-orang tertawa gaduh di sudut-sudut warung kopi. Bubar. Mereka semua bubar, ada yang menuju surau atau mushalla desa, ada juga yang pulang ke rumah. Lalu, mulailah setiap rumah terdengar lantunan-lantunan ayat-ayat suci yang di bacakan oleh manusia yang mendiami rumah tersebut. Ini suasana Aceh ketika masih di era 90an. Dan, di desa ini, semuanya masih terjaga dengan baik.

Beberapa permainan tradisional juga masih terjaga dengan baik. Sebut saja, main sandal batok. Sambar elang, atau mungkin, main sembunyi-sembunyian. Semuanya masih terjaga dengan baik. Menurut informasi, ternyata, setiap minggu, saya bisa menyaksikan anak-anak di hari kamis dan sabtu sore. Selain untuk menjaga kelangsungan kesenian asli Aceh, ternyata anak-anak itu juga berlatih untuk event-event internasional. Tahun lalu, mereka berhasil menjajaki Perancis selama dua minggu. Tahun ini, anak-anak tersebut akan ke jepang untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam bernari tarian tradisional Aceh.

Nusa Festival

Ini dia yang unik dari semua yang unik. Event ini mulai tahun 2007 lalu, sebagai refleksi dua tahun setelah tsunami. Beberapa pemuda/I gampong Nusa bersama teman NGO yang peduli anak,, memberi kegiatan pada anak-anak untuk melupakan trauma akibat bencana. Salah satu rangkaian Nusa Festival ini adalah Nusa Award yang semua konsepnya digagas oleh anak-anak. Kegiatan yang diselenggarakan di bulan Desember setiap tahunnya adalah upaya bagaimana mengajak anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan desa.

Ternyata, ide mereka kreatif. Ada beberapa kategori yang mereka lombakan, yaitu orang yang paling disegani anak, orang yang paling lucu, rumah paling bersih, dan anak kreatif. Untuk pemilihan pemenang, anak-anak sendiri yang jadi juri.

Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, Gampong Nusa juga menjadi salah satu Gampong yang pertama kali melakukan kegiatan recycle sampah menjadi sebuah handicraft. Mulai dari sandal plastic, sampai tas. Mulai dari bunga sampai kotak tissue. Mereka kreatif, mereka inovatif. Dan mereka Ramah. Oh ya! Kegiatan ini bisa kita temui pada hari rabu di setiap minggunya.

Wisata Kuliner

Sebut saja makanan atau masakan asli Aceh, Mie Aceh, Ayam tangkap, Gulai Pliek U, Gulai Ikan Sawah, Asam Udang, dan Ikan Kayu. Semuanya tersedia disini. Tapi, tunggu dulu, semua ini bisa menjadi satu paket di home stay desa tersebut. Jadi, siapapun tamunya, semuanya bisa request. Tentunya untuk beberapa masakan tertentu, kita masih harus nego harga.

Kopi Aceh juga tersedia. Tenang, lagi-lagi anda tidak perlu repot-repot ke warung. Adat dan budaya Aceh yang selalu memuliakan tamunya, ini akan menjadi sebuah poin lebih sekaligus ajang berhemat. Kita akan disajikan kopi saban sore hari. Di seduh dengan air mendidih, di masak diatas tungku. Semuanya serba manual dan tradisional. Lalu, timphan, dan pulot pun akan duduk manis tersaji bersama segelas kopi Aceh di sore hari.

Sumber : http://www.hikayatbanda.com/2015/04/wisata-social-ecotourism-di-kampung-nusa.html

No Responses

Leave a Reply