TEUKU UMAR : AHLI SIASAT DARI TANAH RENCONG YANG MENIPU BELANDA

Teuku Umar yang dilahirkan di Meulaboh Aceh Barat pada tahun 1854, adalah anak seorang Uleebalang bernama Teuku Achmad Mahmud dari perkawinan dengan adik perempuan Raja Meulaboh. Umar mempunyai dua orang saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki.

Nenek moyang Umar adalah Datuk Makhdum Sakti berasal dari Minangkabau. Salah seorang keturunan Datuk Makhdum Sakti pernah berjasa terhadap Sultan Aceh, yang pada waktu itu terancam oleh seorang Panglima Sagi yang ingin merebut kekuasaannya. Berkat jasanya tersebut, orang itu diangkat menjadi Uleebalang VI Mukim dengan gelar Teuku Nan Ranceh. Teuku Nan Ranceh mempunyai dua orang putra yaitu Teuku Nanta Setia dan Teuku Ahmad Mahmud. Sepeninggal Teuku Nan Ranceh, Teuku Nanta Setia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Uleebalang VI Mukim. la mempunyai anak perempuan bernama Cut Nyak Dhien.

Teuku Umar dari kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas , dan pemberani.

Setahun kemudian Teuku Umar melepas masa lajangnya dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Dan karena ingin meningkatkan derajatnya, ia kemudian menikah lagi dengan puteri Panglima Sagi XXV Mukim bernama Nyak Malighai yang membuatnya menerima gelar Teuku. Tak hanya sampai di situ, di tahun 1880 Teuku Umar kembali menikah. Kali ini dengan putri pamannya, janda Teuku Ibrahim Lamnga bernama Cut Nyak Dien yang akhirnya memberikan keturunan bernama Cut Gambang. Keduanya lantas berjuang bersama menyerang pos-pos Belanda di Krueng.

Teuku Umar Johan Pahlawan
Teuku Umar Johan Pahlawan

Teuku Umar sempat berdamai dengan Belanda tahun 1883. Namun satu tahun kemudian perang kembali tersulut di antara keduanya. 9 tahun kemudian tepatnya 1893, Teuku Umar mulai menemukan cara untuk mengalahkan Belanda dari ‘dalam’. Ia lantas berpura-pura menjadi antek Belanda. Aksi ini sampai membuat Cut Nyak Dien marah besar karena bingung dan malu. Aksi pura pura menyerah kepada Belanda dilakukan Teuku Umar dengan sangat sistematis, sampai Cut Nyak Dhien tidak mengetahui siasat tersebut.

Atas jasanya menundukkan beberapa pos pertahanan di Aceh, Teuku Umar mendapat kepercayaan Belanda. Ia lalu diberi gelar Johan Pahlawan dan diberi kebebasan untuk membentuk pasukan sendiri berjumlah 250 orang tentara dengan senjata lengkap dari Belanda. Pihak Belanda tidak tahu, kalau itu hanya akal-akalan Teuku Umar semata yang telah berkolaborasi dengan para pejuang Aceh sebelumnya. Tak lama kemudian, Teuku Umar malah diberi lagi tambahan 120 prajurit dan 17 panglima termasuk Pang laot sebagai tangan kanannya.

30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda. Di sinilah ia kemudian melancarkan serangan berdasarkan siasat dan strategi perang miliknya. Bersama pasukan yang sudah dilengkapi 800 pucuk senjata, 25.000 peluru, 500 kg amunisi dan uang 18 ribu dolar, Teuku Umar yang dibantu Teuku Panglima Polem Muhammad Daud dan 400 orang pengikutnya membantai Belanda. Tercatat, ada 25 orang tewas dan 190 luka-luka dari pihak Belanda.

Panglima Tibang
Panglima Tibang

Belanda yang marah terhadap Teuku Umar memerintahkan Jendral Van Heutz untuk menggempur Teuku Umar hidup atau mati. Berbekal informasi dari para Pengkhianat yang bernama Teuku Leubee atau terkenal Panglima Maharaja Tibang yang memberikan informasi kepada Belanda bahwa Teuku Umar hanya bisa ditembak dengan peluru emas. Berkat informasi itu pasukan Belanda segera mengeksekusi Teuku Umar lewat serbuan di Pantai Ujong Kareung Meulaboh ketika pasukan Teuku Umar sedang dalam perjalanan menuju Meulaboh.

Kematian Teuku Umar sempat menggoyahkan semangat para pejuang Aceh, namun kesedihan itu segera dimentahkan oleh Cut Nyak Dhien yang merupakan Istri Teuku Umar. Segera stelah meninggalnya Teuku Umar, Cut Nyak Dhien memimpin pasukannya untuk terus berperang melawan Belanda

Nah buat Anda yang Penasaran dengan Perjuangan Seorang Cut Nyak Dhien. Ini dia Link untuk Film Cut Nyak Dhien yang diproduksi pada tahun 1987 dan meraih banyak penghargaan pada Ajang Piala Citra.

Pinto Khop (Neusu)
Pinto Khop (Neusu)

Glory Team

Glory Travel

Vivamus vehicula dictum elit at bibendum. Etiam finibus eros ut urna auctor ullamcorper. Sed at erat eget nisl rutrum ultrices sed eu ex.

Newsletter

Sign up to receive the latest news and trends from our company.

More questions? Get in touch